Posts filed under 'Splash'

Kembalinya (4)

Bima berdiri dan berjalan ke tempat tidurnya. Dia mengambil sepasang boneka yang saling berpelukan. Pada boneka yang berambut pendek ada tulisan dari jahitan benang yang tidak rapi, “Bimaku”. Dan di baju boneka yang berkucir 2 bertuliskan jahitan benang yang lebih tidak rapih lagi, “Mrs. Bima”. Bima tersenyum mengingat kejadian saat Binta memberikan boneka itu kepadanya di airport.

Sambil berlari terengah-engah, Binta memanggil namanya, lalu tersandung sebuah kopernya dan jatuh tepat di bawah kakinya. Binta langsung berdiri dan dengan semangatnya menyerahkan sebuah bungkusan coklat yang sangat tidak rapi ke tangan Bima, lalu berlari pergi secepat ketika dia datang sambil meneriakkan “Ati2!!”. Bima ingat, saat itu semua mata menuju ke arahnya. Kejadian yang kira-kira hanya setengah menit itu membuat orang-orang di ruangan tertawa. Saat itu Bima sama sekali tidak menganggap Binta. Bahkan ketika Bima tidak lagi menemukan tempatĀ  untuk bungkusan itu di tas ranselnya, Bima ingin membuangnya. Tapi niat itu diurungkannya ketika mengingat adegan Binta yang berlari2 sampai terjatuh ketika memberikannya.

Bima membuka bungkusan itu di pesawat. Bima bahkan sempat mengumpat saat melihat perekat2 di kertas itu yang ditempelkan dengan tidak rapi. Tapi saat bungkusan itu terbuka, Bima lebih kaget lagi. Karena berisikan 2 boneka yang tampaknya dipersiapkan dengan sangat terburu2 itu. Bima ingin tertawa, karena belum pernah ada cewek yang seberani itu berharap menjadi Mrs. Bima, sampai tanpa malu menuliskannya di salah satu boneka. “Psycho!!!”, Bima mengumpat dalam hati. Tapi entah kenapa dia simpan boneka itu. Bahkan boneka itu menemani tidurnya selama 2 tahun ini. Dia bukannya tidak suka Binta. Tapi Bima merasa saat iitu dia belum bisa menjanjikan Binta apa-apa. Lalu, apa sekarang dia sudah bisa?

Add comment October 16, 2008

Revenge?

Binta84: aku males ngetik! Capek! (aku merajuk saat dia mengajak chatting)

BimaBima: yaudah.. aku telpon ya?

Binta84: gak ah! delay nya itu lho! Bikin kita berantem!!

BimaBima: ya jangan berantem donk… Kamu tuh…

Binta84: males ahhhhh…

BimaBima: yaudah, aku tetep telpon kamu. Kamu ngomong… Ntar aku ngetik aja lewat YM. Jadi aku yang dengernya ada jeda. Ntar aku jawabnya pake YM. Aku kan ngetiknya cepet…

Binta84: sama aja! Kamu kan tetep denger suaraku agak lama…

BimaBima: Tapi paling gak… waktu delaynya gak jadi 2 kali kan?

Binta84: Yaudahlah! Terserah…

BimaBima: Tunggu ya…

Entah apalagi permainan Tuhan. Saat ini keadaan seperti berbalik. Dia tampak sangat menuruti semua kemauanku dan sabar menghadapi aku yang sering dengan sengaja, membuatnya kesal. Seperti hari ini. Entah kenapa akhir-akhir ini aku seperti menahan rasa yang mau tumpah lagi ke luar. Aku tidak mau sakit lagi. Sehebat mungkin aku menolak semua perhatiannya. Tapi semakin aku kasar, semakin dia melembut. Sepertinya, dia hendak menebus dosa. Itu juga yang coba dianalisis oleh teman2ku.

BimaBima: Kamu hari ini mau ke mana?

“Mau pergi…”, aku menjawab sok tak acuh.

BimaBima: Iya… Ke mana?

“Terapi batu bara…”

BimaBima: yang buat kurus itu?

Ya! Sekali aku aku ingin membuatnya kesal. Aku tau kalo dia tidak mengijinkan aku mengikuti terapi batu bara itu, karena sang terapis adalah laki-laki dan dia harus menempeli batu bara kecil2 di seluruh tubuhku.

“iya…”, aku menunggu dia marah.

BimaBima: mmm….

“kenapa? gak boleh?”

BimaBima: Hehe… yaudah gak apa2… Hati2 ya… Langsung pulang, lho! Kamu sama siapa?

“Sama Adit!”, aku tau dia sangat cemburu terhadap sahabatku Adit.

BimaBima: Adit? Emang gak ada supir?

“Gak ada! Dipake ibu…”

BimaBima: Mmmm… Yaudah, ntar aku telpon kalo kamu uda mau jalan… Aku mau ngomong ama Adit…

“mau ngapain? Lagian juga delay nya bikin aku males…”

BimaBima: Binta! Stop it!! sampai kapan kamu mau hukum aku?

“AKu gak hukum kamu!”, suaraku meninggi.

BimaBima: okey… ati2 ya..

Add comment October 16, 2008

Peringkat pertama…

Akhirnya hari yang paling aku takutin 2 tahun ini dateng juga. Alhamdulillah aku (lbh tepatnya kita) bisa ngelaluin hari itu dengan baik. Aku gak nyangka kamu jg ada di situ. Tanpa persiapan hati aku ketemu lagi sama kamu. Piring yang aku bawa hampir aja jatuh liat kamu jalan ke dalem. Apalg kemeja warna mencolokmu itu membuatmu semakin menonjol di antara yang lain (termasuk Fedi Nuril!!! Oh God! Ternyata kamu lebih keren!! Hahahahha…). Coba kamu tau seberapa besar usahaku buat jaga biar piringku gak jatuh, biar kakiku gak lemes, dan siapin mental biar aku gak kabur dari situ.

Hmmm… Kamu kliatan lebih kurus. Kamu pasti ketawa kalo tau aku sok cool ngadepin kamu. AKu inget kamu sering bilang kalo aku kliatan grogi di depan kamu. Kamu kliatan ragu buat nyapa aku, dan aku dengan sok nya jalan ke arahmu dan nyapa kayak gak ada apa-apa. Ahhh!! Kalo aja ada Rudi Sujarwo, pasti aku uda diambil buat peran kpribadian ganda. Tapi abis itu aku nyesel nyapa kamu!!! Ternyata ktawa kamu masi sama kerennya kayak dulu!! Gigi kelincimu yang paling aku suka itu nongol tanpa perasaan!! Damn!! Aku suka kamu!!!! Kalo saja tidak ada siapa2 di situ pasti aku sudah teriak sekuat tenaga. Lalu kamu kebingungan mencari tempat duduk, dan lagi-lagi aku ga kompromis sama diriku sndri dengan menawarkan tempat duduk kosong di sebelahku. Kamu duduk. DI sebelah aku. Deket!!! Damn!! Rasanya pengen lompat meluk kamu dan bilang kalo selama ini aku tunggu kamu. Tapi, aku kan pinter akting. Aku malah jawab pendek2 waktu kamu mulai tanya2. Padahal yang aku pengen keluarin itu kira-kira begini, “Kamu jahat!!! Kamu ga ngerti apa yang aku rasain 2 tahun ini!!! Kamu bener! AKu psycho!!! Kayaknya aku mulai jd psycho semenjak kenal kamu!! Kamu harus tanggung jawab!!! Aku tersiksa sendirian dan kamu gonta-ganti pacar di sana!!!”. Tapi gak mungkin kan? Bisa2 keluargaku bisa tau tentang sakit jiwaku. Makanya aku diem aja. Walaupun seluruh badanku lemas…

Akhirnya waktu pulang. Aku tahan untuk gak nangis. Aku pun gak liat ke arahmu waktu salaman. Aku juga gak liat ke arahmu sampai aku kluar. AKu takut. AKu takut sakit jiwaku kluar dan aku teriak histeris di sana. AKu melangkah tetep dengan sok cool. Semakin jauh, semakin mantap. Tapi, semakin jauh, aku semakin sakit.

* Buat kamu yang akhirnya muncul lagi… Ternyata kamu masih di peringkat pertama…

9 comments September 3, 2008

….

Begitu banyak kombinasi. Begitu banyak variasi. Intinya satu. Mempelajari permainan hati. Begitu banyak air mata. Begitu banyak kekecewaan. Intinya satu. Menunggangi kesedihan. Begitu banyak tawa. Begitu banyak cinta. Intinya satu. Menahan rasa euphoria.

Bukan hanya senangnya yang kita cari, tapi bagaimana Dia ada saat kita menangis. Bukan hanya hangatnya yang kita peluk, tapi bagaimana Dia ada saat kita mulai membeku. Bukan hanya cintanya yang meluap, tapi bagaimana Dia tetap ada saat cinta itu telah mati.

Letih. Lelah. Habis air mata. Tak berdaya. Tak lagi punya cita. Bahkan asa tidak mampu membuat kita percaya. Titik nadir. Di situlah aku sekarang berada. Dengan cinta yang sangat besar dan kuat di tangan kananku, dan setumpuk kepedihan di tangan kiriku. Seimbang. Karena itu janjiNya. Tidak lebih, tidak juga kurang. Pada akhirnya kita hanyalah NOL. Flat. Datar. Biasa.

Tapi justru di titik inilah, aku tidak lagi mendikte Tuhan. Aku tidak lagi punya tenaga untuk memprotes Tuhan. AKu hanya menerima, tanpa rasa apa-apa. Kunikmati saja cinta dan pedih setiap harinya. Tanpa kata dan rasa. Saat itulah aku merasa. Ternyata sedih dan bahagia adalah sama adanya. Rasanya pun sama saja. Bukan seperti hitam dan putih yang digambarkan orang-orang. Bukan positif dan negatif seperti yang dibandingkan orang. Saat aku mulai meleburkan sedih dan gembiraku, sedikit aku mulai tersadar. Semua ini adalah permainan. Permainan pikiran, dimana sedih itu tidak enak, dan gembira itu membahagiakan. Ternyata selama ini pikirankulah yang menyedihkan. Pikiran dimana aku akan bahagia jika ada yg mencintaiku. PIkiran dimana aku akan senang jika tercapai citaku. Buktinya, aku masi bisa tertawa tanpa itu semua. Tidak terbahak-bahak memang, tapi cukup membuat yang lain ikut tersenyum. Saat inilah aku tau, bahagia adalah pilihan. Bukan hasil pemikiran dan perhitungan. Tapi kesadaran penuh dalam menentukan.

1 comment August 13, 2008

Kembalinya…(3)

“Apa yang membuatmu ragu?”, Lita memandangiku sambil menyuapkan sesendok bubur ayam ke mulutnya.

“Gak tau… Mungkin karena dia pernah pergi. Berkali-kali. Dan aku gak yakin apa dia tidak akan pergi lagi kali ini…”, kami sedang membicarakan kemungkinan-kemungkinan bahwa aku dapat bersama lagi dengan Bima.

“Ya, kalo gitu jangan balik ke dia…”

“Tapi.. aku masih cinta..”

“Adriel juga mencintai kamu. Tapi dia malah pergi. Mungkin dia terlalu mencintai kamu, jadi mau berbuat apapun takut menyakitimu…”

“Mmm.. Adriel.. Ya, aku tidak pernah menyangka dia pergi dengan cara seperti itu.”

“Adriel lebih parah! Dia pergi beberapa hari setelah pertunanganmu. Tanpa kabar sama sekali… Kamu masih belum ketemu dia?”

“Belum… Tapi aku gak ingin nunggu lagi… Keluargaku udah terlanjur kecewa…”

“Ya.. aku bisa mengerti perasaan mereka, terutama papamu… Padahal papamu sudah sangat melonggarkan kriterianya untuk putri kesayangannya…”

“Hehe… Entahlah…”

“Kamu masih cinta Adriel?”

“Aku masih sayang… masih peduli.. kadang pun aku masi sering teringat dia…”

“Trus, kamu gak coba telpon dia?”

“Aku udah capek, Ta…”

“Mmmm… Lalu tentang Bima, kau yakin masih mencintainya?”

“Ya. Kalo itu dari dulu sampe sekarang tidak ada yang berubah…”

“Mmm… Tapi karena reputasinya itu, kau jadi ragu?”

“Iya..”

“Lalu buat apa kamu mencintainya? Kalau tidak ingin bersamanya?”

“Entah… Karena kelakuannya yang datang pergi seenaknya sendiri itu aku jadi terbiasa tanpa kehadirannya… Tapi aku tet konsisten care sama dia.. Mungkin aku jadi terbiasa untuk tidak mengharapkan apa-apa dari dia…”

“Mmm.. Ya, kamu memang mencintainya… Mungkin malah terlalu mencintainya… hehehe..”

“Hehe..”

“So, kamu jadi ketemu Bima malam ini?”

“Jadi..”

“Mungkin sekarang kau jalani saja… Sambil melihat apakah dia serius dengan kata-katanya kemarin… Tapi ingat, Hana… Dia Bima. Orang yang pernah membuatmu menangis berkali-kali…”

Add comment July 10, 2008

Kembalinya… (2)

Aku terbangun di tempat tidur dengan selimut yang sangat hangat. Di mana aku? Oh, God! Aku masih di rumah Bima!! Duh! Apa yang udah kami lakuin semalam? Rasa panik muncul dan membuatku secepatnya bangun. Tapi kepalaku sangat pusing. Aggghhhh!!! Sekarang aku mau muntah! AKu langsung lari ke kamar mandi dan muntah di sana. Untung aku masih hapal benar letak bagian rumah Bima ini. Kulihat di samping wastafel ada sikat gigi yang masih baru, kuambil dan menyikat gigiku untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulutku. Setelah selesai membersihkan diri, aku berjalan ke ruang tengah. Bima sedang memasak. Aku berhenti dan menikmati pemandangan ini. Bima mengenakan baju putih dan celana pendek, sedang memasak sesuatu. Kentang goreng? Mmm… Ingatanku kembali ke 2 tahun lalu. Saat itu pasti aku sedang di sampingnya, walaupun hanya melihat-lihat. Aku sama sekali tidak bisa memasak. Dan itu yang sering dikeluhkan Bima. Saat itu aku hanya menjawab, “kalo kamu bisa masak, ya kamu aja yang masakin aku ya?”. Saat itu pasti kamu tertawa dan menepuk kepalaku lembut. AKu rindu. Aku rindu Bima. Ingin rasanya aku berlari dan langsung memeluknya. Tapi kaki seperti tertanam ke tanah. Tak terasa air mataku mulai menetes. AKu mengintip ruang kerja Bima yang terletak persisi di samping aku berdiri. Lukisan itu. Lukisan itu masih terpasang di dinding dengan posisi yang sama. Lukisan yang kami beli di Bali, saat kami liburan di sana.

“Hana?”, Bima memandangiku sambil memegang panci. AKu cepat menghapus air mataku dan berjalan ke arahnya.

“Kamu ngapain?”, aku berdiri di sampingnya, dan melongok isi panci. Sayuran! Cis!!

“Tenang aja… Ini buat aku. Buat kamu ada mashed potatoes ksukaan kamu.”, nah! dia membaca pikiranku lagi. Bima mengambilkan mangkok dan sepiring mashed potatoes ke meja. Aku mengikutinya, dan dia menarik 1 kursi untuk aku duduk. Persis seperti 2 tahun lalu. Bedanya saat itu pasti aku sudah menciuminya berkali-kali sebagai ungkapan terima kasih.

“Terima kasih…”, aku menunduk menyembunyikan senyumku.

“Kamu nyenyak banget tidurnya…”, pernyataannya membuatku terhenyak dan berdiri tiba-tiba.

“Mmm… semalem… kita… mmmm…”, aku bingung bagaimana mempertanyakan apakah semalam kita melakukan hal yang gila.

“Semalem apa?”, pasti Bima sengaja menggodaku. Tidak mungkin dia tidak mengerti maksudku.

“Bima…”, aku menarik ujung bajunya sambil merengek.

“Hehhe… Tenang aja… Aku tidur di sofa, kok…”, oh, syukurlah! Aku kembali duduk dan langsung mengambil makananku dan melahapnya.

“Kamu ga makan?”, aku melihatnya yang masih sibuk membuat sesuatu.

“Iya bentar…”, aku penasaran. Apa sih yang dia buat? Sambil memasukkan satu suapan ke mulutku aku berdiri. Dan membalikkan badan untuk melihat masakan Bima. Ternyata pada saat yang sama Bima juga membalikkan badannya dan sekarang kami berhadapan dengan sangat dekat. Bima meletakkan piring berisi makanannya ke meja di sampingnya, dan makin merapatkan badannya ke arahku. Aku menunduk, berusaha keras menahan air mataku. Tapi Bima mengangkat wajahku. Tangan yang lainnya memelukku sambil sedikit mengangkat tubuhku yang hanya setinggi dadanya. Bima mendekatkan wajahnya. Menciumi air mataku yang menetes. Aku semakin menangis keras. Tidak peduli lagi apa yang Bima pikirkan. Dia tidak mencium bibirku, seperti dulu. Bima tersenyum dan menurunkan tubuhku yang sedikit terangkat. AKu heran kenapa Bima sangat menahan diri saat ini. Tidak seperti Bima yang dulu. Bima kembali mengambil piringnya dan menggandengku untuk kembali ke meja. Aku terdiam. Sebenarnya berharap momen tadi berlanjut. Tapi itu tidak mungkin. AKu duduk dan menyuapkan makananku tanpa suara.

“Kamu suka?”, Bima mencairkan suasana.

“Suka… Sangat suka…”, aku menghapus air mata yang tidak berhenti menetes.

“Kamu tau, aku senang melihatmu ada di dapurku lagi.”, Bima tidak peduli aku memangis.

“Aku juga senang… sangat senang…”, aku masih menunduk. Mashed potatoesku sudah bercampur dengan air mata.

“Kamu tau kepulanganku saat ini untuk apa?”

“Tidak. AKu tidak tau…”, aku sadar bahwa aku tidak pernah tau apapun tentang Bima. Kecuali Bima yang datang dan pergi sesuka hatinya dalam kehidupanku.

“AKu… ingin menikah…”

“Hah? Menikah?”, tak sadar aku berteriak.

“Iya, aku ingin menikah…”

“Sama siapa?”

“Belum tau…”

“Lhoh?”, aku jadi bingung apa maksudnya. Dia ingin menikah tapi tidak tau sama siapa?

“Iya… Aku sudah ingin menikah. Tapi aku tidak tau sama siapa…”

“Mmm… pacarmu? eh, salah satu pacarmu?”, aku sengaja menekankan kata ’salah satu’ untuk menyindirnya.

“Hehe.. Kamu ini bisa aja… Aku belum tau…”

“Mmm…”, aku cm bisa terdiam. Rasa kaget dan sedih bercampur di hatiku. Ada ketakutan bahwa mungkinkah ini saatnya mereka berpisah selamanya? SElama ini dia selalu berharap suatu saat Bima akan kembali padanya. Karena itulah dia selalu menunggu dan tidak menghiraukan siapapun yang mendekatinya.

“Makanya aku pengen ketemu kamu…”

“Untuk apa?”, aku tidak bisa menebak arah pembicaraan Bima.

“Mungkin kamu yang bisa membuatku pulang dan menetap di sini selamanya…”

Add comment July 9, 2008

Kembalinya…

“Hi…”, suara berat yang sudah menghilang hampir 2 tahun itu terdengar lagi. AKu mengangkat wajahku ke arah suara itu. Wajahnya masih sama. Hanya rambutnya yang dulu sebahu sudah berubah potongan cepak. Dia tersenyum menampilkan gigi kelincinya yang dulu membuat aku tergila-gila.

“Hi…”, aku menjawab sambil membereskan majalah yang sedang kubaca sambil menunggu.

“Udah lama? Maaf yah, telat…”, aku hanya tersenyum. Dia tidak berubah. Tidak on time. Aku ingat itulah hal yang sering membuat aku bertengkar dengannya dulu.

“Mau pesen minum apa?”, aku memanggil pelayan.

“Coklat panas yah…”, mmm… minum kesukaannya belum berubah.

“Oiya mas, tambah kentang goreng… sama minta…”

“Mayonise!!”, dia memotong ucapanku sambil tertawa, lagi2 menampilkan gigi kelincinya.

“Sama saos tomat ya!”, aku menambahkan sambil tersenyum. Dia masih ingat kesukaanku.

“Kamu masi suka nyampur mayonise sama saos tomat? Kenapa gak pesen salad aja sih?”, lagi2 dia mengajukan pertanyaan yang sama, yang diajukan 2 tahun lalu, saat kita masi berpacaran.

“Jawabannya masi sama… Karena aku gak suka sayur…”, aku melirik ke jari manis di tangan kirinya yang kini sudah mengenakan cincin. Sejenak aku panik, tapi lalu bingung sendiri kenapa aku panik?

“Ini hadiah dari temen!”, seperti biasa dia selalu tau apa yang aku pikirkan. Bahkan saat aku tidak pernah berhenti mencintainya, dan selalu menunggunya. Dan itu yang membuatnya selalu merasa aku akan selalu menerimanya kembali, apapun kesalahannya.

“Kirain kamu udah…”, aku tidak melanjutkan ucapanku, tapi berusaha keras untuk tersenyum tanda aku sedang menggodanya.

“No! You don’t have to worry!”, katanya enteng sambil melihat daftar menu. AKu cukup kaget mendengar ucapannya. Lagi2 dia tau apa yang aku pikirkan.

“Kamu sampai kapan di sini?”

“Sebulan lagi…”

“Kapan kamu berencana menetap di sini? Apa kamu memang ingin di sana selamanya?”

“Mmm… aku belum tau… Tapi, aku akan pulang kalo memang ada yang bisa membuatku pulang…”, dia menatap langsung ke mataku, dan langsung membuatku menunduk.

“Memangnya apa yang bisa membuatmu pulang dan menetap di sini?”, tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan kami. Kami terdiam sampai pelayan itu pergi.

“Mmmm… kentang kamu enak juga!”, dan aku kehilangan moment. Aku sangat penasaran apa jawabannya atas pertanyaanku tadi. Tapi sepertinya Tuhan masi membuatnya menjadi suatu misteri buatku.

Add comment July 9, 2008

Terakhir Kali…

Wajahnya memerah seperti menahan emosi. Wajah yang sama yang kulihat 10 tahun yang lalu. Laki-laki di depanku adalah segalanya bagiku. Aku bisa menjadi sangat permisif bila bersamanya. Banyak temanku yang bilang, aku seperti menyerahkan harga diriku untuk dia injak-injak. Aku juga tak mengerti. Bila ternyata tidak mencintaiku, mengapa dia selalu kembali padaku? Apa dia hanya ingin membalaskan suatu dendam? Entah! Aku melihat setitik air di ujung matanya. Dia mulai menangis. Entah menangisi apa! Atau menangisi siapa! Yang jelas, dia tampak menyesal.

“Apa kamu cinta aku?”, aku pelan-pelan bertanya sambil mengusap punggungnya.

“Ya… AKu cinta…”

“Tapi mengapa kau selalu pergi?”, aku mencoba menahan air mataku sendiri. Itulah! Entah kenapa, dia selalu bisa membuatku memaklumi dan mengalah.

“Aku gak tau. Tiba-tiba saja sebagian diriku yang mencintaimu tiba-tiba menghilang. Blank!”, dia tampak menghindari tanganku di punggungnya.

“Blank?”, aku menarik tanganku, membiarkan dia mengeluarkan emosinya.

“Ya. Aku gak tau kenapa.”

“Ok… Sekarang, aku bisa menyimpulkan bahwa aku bukan orang yang kamu cari…”

“Loh? Kenapa bisa bilang gitu? Belum tentu!”, nada suaranya tiba-tiba meninggi.

“Ya, karena pada saat tertentu kamu bisa dengan mudah mengeliminasiku. Nanti suatu saat jika ada kesempatan, kau kembali padaku. Tapi nanti kamu bisa mengeliminasiku lagi. Gak jelas apa maumu, sayang…”

“…”, dia terdiam dan tampak berpikir.

“Aku sayang kamu…”, aku mencoba mengangkat wajahnya sambil tersenyum. Kulupakan hatiku yang teriris-iris.

“…”, dia tidak menjawab. Hatiku kembali tersayat.

“Ok. Rasanya, aku sudah cukup tau posisiku. Bismillah, aku lepasin kamu mulai hari ini…”, aku memaksakan suaraku terdengar datar tapi tidak berhasil. Suaraku bergetar dan air mataku mulai menetes. Itu belum seberapa. Hatiku kembali sakit, saat dia sama sekali tidak menolehkan wajahnya kepadaku. Tampaknya dia memang tidak peduli.

Aku mulai beranjak berdiri. Merapihkan ujung rokku yang kusut dan mengusap wajahku berkali-kali. Tanda bahwa aku sangat risau. AKu bingung, di satu sisi aku ingin mempertahankan dia, tapi di sisi lain dia tampak tidak ingin dipertahankan. Dia sama sekali tidak melihat padaku.

“Mudah-mudahan kamu jadi orang yang sukses… Love You…”, aku menunduk mengecup kepalanya dan beranjak pergi.

“Beib!!”, tiba-tiba dia memanggilku. AKu menoleh ke belakang, berharap dia berubah pikiran.

“Ya?”, aku sedikit berteriak.

“Aku akan tetap berjuang buat kamu!!”, jawabannya membuatku melayang lagi untuk ke sekian kalinya. Tapi kali ini tidak tinggi. Entah apa lagi arti kata ‘berjuang’ untuk kita. Toh, dia tidak mau bertahan di sampingku.

Aku hanya tersenyum dan kembali berjalan. Banyak yang bilang, jika setiap orang punya cara mencintai yang berbeda. Tapi aku sama sekali tidak mengerti cara mencintai laki-laki ini. Dia berjuang untukku, tapi tanpa ingin bersamaku. Mungkin memang caranya yang unik, atau aku yang tidak bisa mengerti. Nah! Aku mulai permisif lagi dan menyalahkan diriku. Sudah beberapa kali laki-laki ini memperlakukan aku begini. Datang kembali dengan memperbarui janji, lalu hilang tenggelam seperti tak pernah datang. Aku sakit. Bahkan sudah kebal. Tapi aku mencintainya. Dan aku menghormati keputusannya, walaupun sakit. Tapi aku tau, bahwa inilah yang terakhir. Sepertinya hatiku sudah tau untuk tidak pernah lagi terbang tinggi jika menyangkut laki-laki ini. Ini yang terakhir, janjiku pada diriku sendiri. AKu kembali menoleh ke belakang, untuk terakhir kalinya.

4 comments June 27, 2008

Yakin…

“Lo yakin ma ketemu dia?”, Erdin ngeliatin gwe dengan pandangan ga yakin.

“Iya. Minggu ini gwe berangkat.”

“Buat apa?”

“Gwe kangen…”

“Coba lo pikir-pikir lagi deh!”, Erdin semakin memperhatikan gwe.

“Udah. Dan sampai saat ini cuma dia yang bisa ngertiin gwe..”, gwe tetep nunduk.

“Menurutlo gimana kalo kalian ketemu?”

“Mmmm…”

Gwe bisa bayangin pasti dia akan jemput gwe di bibir pesawat kayak dulu, dan langsung peluk gwe. Kita pasti akan cerita2 seru, nyanyi2 bareng dan bikin video klip dadakan. Gwe inget rutinitas gwe jam 4 pagi ikut bangun waktu dia siap2 kerja, dia pasti nyediain waktu setengah jam cuman buat belai2 gwe yang masih setengah tidur, dan nunggu dia pulang jam 11 malem. Gwe inget kita curi-curi ciuman di tangga biar gak ketawan sodara2 gwe. Pasti menyenangkan. Saat sedih kayak gini, pasti dia bisa hibur gwe. Tapi, itu kan yang biasanya terjadi. Gimana kalo ntar gak seperti yang gwe bayangkan?

“Lo yakin dia bakal gitu? Kalo gak? Berapa lama lo gak ketemu dia? Semuanya bisa berubah lho, Sist…”, yup! Pikiran Erdin sama kayak gwe.

“…”

“Gimana kalo.. dia udah ngelupain lo?”

“Menurutlo, dia ga mau ketemu gwe?”, ada rasa panas di dada gwe.

“Kalo cuma skedar ketemu pasti mau. Tapi… Jangan berharap yang selalu lo bayangin itu juga akan terjadi. “

“…”, Kata2 Erdin seolah nampar gwe.

“So, lo masih mau ketemu dia?”

“Masih…”

“Sist, lo baru aja ngalamin sakit hati yang parah. Apa lo ga takut akan semakin parah kalo dia ga seperti..”

“Din! Gwe gak ngerti… gwe gak ngerti…”, tiba-tiba tangis gwe pecah.

“Sist, gwe tau sampai saat ini dia masih ada di kamar utamalo. Tapi, kita harus realistis. Masih banyak orang yang care sama lo. Dan masih banyak sisi lain di kehidupan ini untuk lo belajar tentang cinta. Gak mesti dari laki-laki.”

“…”

“Gwe tau lo lagi down banget. Apalagi setelah kasus terakhir. Tapi jangan jadi lemah gini. Mana lo yang gwe kenal?”

“Gwe capek, Din! capek! Selama ini gwe berusaha ngerti orang. Makanya gwe berpikir sekarang saatnya gwe pentingin diri gwe sendiri. Gwe mau perjuangin dia. Gwe ga peduli cewek brengsek itu!!!”

“Usshhhh.. Kok lo jadi jahat gini.. Jangan, SIst! Biar dia bahagia sama cewek itu…”

“Dia gak bahagia, Din! Dia gak cinta sama cewek itu! Cewek itu pun juga gak cinta! Kita saling mencintai, Din!”

“Tapi kputusan dia gak milih elo!! Buka matalo donk!!”, suara Erdin meninggi.

“….”, tangisan gwe makin meledak.

“Kalo lo sayang dia, lo harus hargai keputusan dia. Gak usah coba untuk mengerti, karena ampe kapanpun gwe yakin lo gak akan ngerti kenapa dia pilih cewek yang gak dicintainya itu. Sama halnya dengan kasus terakhir. Lo cuma bisa hargain keputusannya yang ninggalinlo kan? Sampe kapanpun lo gak akan ngerti alesannya kenapa. Percaya sama gwe. Gak semua hal bisa dianalisis. Kadang kita cuma bisa berpikir positif bahwa ini yang terbaik. Yang penting lo yakin!”

“Gwe juga berpikir positif kok, Din. Gwe yakin suatu saat dia akan cari gwe!”

“Sist… Gwe yakin, kalo setiap hari lo bangun pagi dengan keyakinan bahwa dia suatu saat akan balik, dia pasti balik. Tapi apa lo gak capek? Daripada lo berpikir gitu, mendingan lo bangun tiap hari dengan keyakinan bahwa Tuhan sedang mempersiapkan keadaan yg lebih baik buat lo. Entah sama dia atau siapapun…”

“….”

1 comment June 17, 2008

Kamu

Kamu adalah senyumku dan sedihku

Kamu adalah cerminan perasaan Tuhan kepadaku

Kamu sangat mencintaiku walaupun di saat aku sedang tidak mencintai diriku sendiri

Terima kasih Tuhan karena telah menyisihkan waktuMu sejenak dan menciptakannya untukku

Add comment June 6, 2008

Previous Posts


 

December 2009
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Recent Comments

ndot2an on Terakhir Kali…
sepatuhitam on Terakhir Kali…
ndot2an on Tips Mencari Pasangan Jiwa…
little princess on Tips Mencari Pasangan Jiwa…
Rea on Tips Mencari Pasangan Jiwa…

Recent Posts

Blogroll

Blog Stats