Kembalinya (4)
October 16, 2008
Bima berdiri dan berjalan ke tempat tidurnya. Dia mengambil sepasang boneka yang saling berpelukan. Pada boneka yang berambut pendek ada tulisan dari jahitan benang yang tidak rapi, “Bimaku”. Dan di baju boneka yang berkucir 2 bertuliskan jahitan benang yang lebih tidak rapih lagi, “Mrs. Bima”. Bima tersenyum mengingat kejadian saat Binta memberikan boneka itu kepadanya di airport.
Sambil berlari terengah-engah, Binta memanggil namanya, lalu tersandung sebuah kopernya dan jatuh tepat di bawah kakinya. Binta langsung berdiri dan dengan semangatnya menyerahkan sebuah bungkusan coklat yang sangat tidak rapi ke tangan Bima, lalu berlari pergi secepat ketika dia datang sambil meneriakkan “Ati2!!”. Bima ingat, saat itu semua mata menuju ke arahnya. Kejadian yang kira-kira hanya setengah menit itu membuat orang-orang di ruangan tertawa. Saat itu Bima sama sekali tidak menganggap Binta. Bahkan ketika Bima tidak lagi menemukan tempatĀ untuk bungkusan itu di tas ranselnya, Bima ingin membuangnya. Tapi niat itu diurungkannya ketika mengingat adegan Binta yang berlari2 sampai terjatuh ketika memberikannya.
Bima membuka bungkusan itu di pesawat. Bima bahkan sempat mengumpat saat melihat perekat2 di kertas itu yang ditempelkan dengan tidak rapi. Tapi saat bungkusan itu terbuka, Bima lebih kaget lagi. Karena berisikan 2 boneka yang tampaknya dipersiapkan dengan sangat terburu2 itu. Bima ingin tertawa, karena belum pernah ada cewek yang seberani itu berharap menjadi Mrs. Bima, sampai tanpa malu menuliskannya di salah satu boneka. “Psycho!!!”, Bima mengumpat dalam hati. Tapi entah kenapa dia simpan boneka itu. Bahkan boneka itu menemani tidurnya selama 2 tahun ini. Dia bukannya tidak suka Binta. Tapi Bima merasa saat iitu dia belum bisa menjanjikan Binta apa-apa. Lalu, apa sekarang dia sudah bisa?
Entry Filed under: Splash. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed