Archive for March 11th, 2008
Admirer (1)
Laki-laki itu berdiri lagi. Tepat jam 10.00. Ini adalah jadwalnya ke kamar mandi yang kedua. Jam 08.00, 10.00, 14.00, dan 16.00. Dia selalu ke kamar mandi 4 kali sehari. Dan untuk jam 16.00 dia akan lebih lama tidak ada di tempat untuk melaksanakan solat Ashar. Dia selalu memulai harinya dengan datang jam 07.00 di kantor. Sarapan kentang rebus dan brokoli, dan minum yoghurt rasa duren. Dia akan menghabiskan kentangnya, dan menghabiskan brokolinya belakangan, sambil membaca koran. Dia selalu makan dengan pelan dan santai. Jam 08.00 tepat dia ke kamar mandi, kadang agak lama karena mungkin melaksanakan solat Dhuha.
Setiap akan ke kamar mandi, dia selalu melewati mejaku. Kadang menyunggingkan senyum simpul sambil berlalu di depanku. Mejanya pun tampak jelas dari mejaku. Sampai aku bisa tau apa parfumnya, pasta giginya, merek sepatu favoritnya, kemeja favoritnya, warna favoritnya, dll. Katakan aku gila. Karena aku memang merasa gila. Aku tergila-gila padanya. Tapi aku hanya berani memandangnya dari sini. Kadang saat dia tak sengaja memandang ke arahku, aku lebih memilih menunduk.
Hari ini aku ingin mengikutinya. Pura-pura ke kamar mandi. Kamar mandi sedang sepi. Aku sengaja berdiri di belakang pintu, sambil mengawasi kalau-kalau dia keluar. Bleg! Aku dengar suara pintu ditutup, aku segera keluar. Tapi kemudian mengurungkan niatku, karena aku mendengar suaranya dengan nada yang tidak biasa.
“Udah! Cukup! Terserah kamu! Aku udah capek!”
“Kamu berani ngelakuin ini ke aku! Shit!”
Belum pernah kulihat sekalipun dia marah. Suaranya sangat lembut, dan dia jarang memarahi bawahannya. Aku jadi takut dan seperti ikut merasakan kemarahannya. Siapa yang telah membuatnya menjadi seperti itu? Lama-kelamaan suara itu menghilang. AKu segera keluar dan kembali ke ruanganku. Dia sudah di sana. Dengan wajah yang tampak seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi aku di sini tetap sedih.
Jam 12.00. Waktunya makan siang. Aku selalu menunggunya berjalan ke kantin, baru aku berjalan di belakangnya. Tapi hari ini dia belum juga beranjak. Jam 12.15. Aku mulai resah. Ada apa dengannya? Apa dia tidak makan hari ini? Aku bertahan sampai jam 12.30, dan menyerah. Aku harus makan.
Kulihat dia tidak ada di mejanya. Mungkin sedang solat Dhuhur. Kuletakkan sepiring nasi goreng setelah memastikan tidak ada yang melihatnya. Kutuliskan catatan kecil.
‘Ini bisa sedikit mengurangi amarahmu..’
Lalu aku cepat-cepat kembali ke mejaku. Jam 13.15 dia kembali. Dengan wajah yang lebih lusuh dan muram. Dia berhenti di sisi mejanya saat melihat nasi gorengku dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dia membaca catatanku. Aku bisa melihat dia mengerutkan dahinya. Sekilas tampak akan marah. Tapi kemudian tersenyum simpul. Seperti biasa saat dia berlalu di depanku.Dia melihat nasi gorengku, dan mencobanya sesendok.Lama dia mengunyahnya. Dua sendok. Sampai akhirnya dia lahap menghabiskannya. Aku bisa liat dia kelaparan. Tapi apa yang membuatnya sampai tidak mau makan? Entahlah…
4 comments March 11, 2008