HadiahNya?
March 10, 2008
“Ini perbuatanMu?”
“Perbuatan apa?”, Dia menatapku sambil menyembunyikan senyumNya.
“Kau, memisahkan aku dengan dia. Padahal Kau tau, aku sangat mencintainya.”, aku berusaha menahan tangis.
“Apa kau yakin cinta padanya?”
“Yakin! Sangat yakin!”, aku mulai merasakan dadaku naik-turun.
“Jika kau yakin mencintainya, kenapa sekarang kau sedih?”
“Ya, karena Kau memisahkan kami. Mengapa tiba-tiba Kau kembalikan wanita itu kepada dia? Kau cemburu kan? Ngaku!”
“Hehe.. Ya. Aku cemburu. Aku cemburu karena Aku tidak bisa menemuimu lagi seperti dulu. Waktumu habis untuk dia!”
“Tapi aku tetap menemuiMu. Tidak pernah meninggalkanMu…”
“Yap. Tapi kau jarang memikirkan aku. Pikiranmu penuh dengan dia.”
“Itu tidak benar!”
“Jangan sekali-sekali bohong padaKu! Jangan sekali-sekali!!”, aku mulai takut. Dia benar-benar marah.
“Aku.. hanya sedih… Apa Kau mencintaiku?”
“Selalu, sayangKu… Aku selalu mencintaimu..”
“Tapi kenapa Kau tidak suka melihatku bahagia? Aku bahagia bersamanya.”
“Apa Aku tidak cukup bagimu? Apa kau mulai tidak percaya padaKu lagi?”
“Aku percaya padaMu. Dari dulu sampai sekarang. Tapi, aku sering kecewa. Kau ambil semua yang berarti bagiku.”
“Apa kau yakin semua itu berarti bagimu?”
“Mmm… Aku bahagia bersamanya. Itu yang aku tau.”
“Apa kau lupa Aku pernah berjanji akan memberimu hadiah?”
“Aku tidak mau hadiah! Aku mau Kau kembalikan dia padaku! Tolong! Kalau Kau sayang padaku… tolong, kembalikan!”
“… kamu…”, aku kaget melihat Dia mulai menangis. Belum pernah aku melihat mata yang terluka seperti itu.
“Maaf… aku… aku khilaf…”, aku merasa tidak enak.
“… “, Dia terdiam, tapi mencoba tersenyum.
“Benar Kau sedang menyiapkan hadiah untukku?”
“Ya, cintaKu. Tapi belum bisa kau ambil sekarang…”
“Kenapa? Kau tau aku sedang sedih… Kenapa Kau tahan hadiahNya?”
“Aku tahan sampai kau siap menerimanya. Karena ini hadiah yang istimewa.”
“Istimewa?”
“Ya, karena ini untuk menebus semua yang pernah Aku ambil.”
“Mmmm.. Kau tidak perlu melakukan itu. Karena sebenarnya, semua itu milikMu.”
“Ya. Tapi Aku mencintaimu. Dan aku ingin melihat orang yang Kucintai bahagia.”
“Aku bahagia dengannya… Tapi Kau ambil dia…”
“Aku tidak mengambilnya. Aku hanya sedang mempersiapkan semuanya.”
“Persiapan untuk?”
“Agar kalian lebih siap.”
“Lalu, di mana dia sekarang?”
“Sedang belajar. Sama denganmu…”
“Belajar? Tapi Kau kembalikan dia kepada wanita itu? Belajar apaan?!”
“Belajar mencintai…”
“Lalu kenapa tak Kau kirimkan seseorang untukku juga?”
“Karena kau bisa belajar langsung dariKu.”
“Kamu curang!”
“Hehhe… Aku mencintaimu. Sabarlah… HadiahNya sebentar lagi siap. Percaya padaKu. Akan kupersiapkan semuanya. Sampai waktuNya tepat. Tapi kau mau janji?”
“Janji? Apa?”
“Bahwa kau tidak pernah melupakan Aku?”
“Bagaimana bisa aku melupakanMu? Tidak akan bisa… Aku sudah terlalu sering Kau tegur. Hehe… “
“Percayalah.. dan bersabarlah… Pada saat kamu siap, akan segera Kukirimkan hadiahNya…”
“Mmmm.. Terima Kasih.. Ternyata Kau begitu memikirkan aku.”
“Tentu saja, sayang… Setiap hari aku dipenuhi oleh dirimu…”
“Terima kasih, walaupun Kau selalu sibuk, tapi Kau tidak pernah melupakanKu.”
“Hehe.. Makanya.. Jangan marah-marah lagi… Ini semua hanya ditunda, sampai kamu dan dia benar-benar siap.”
“Iya… Aku sekarang tau.. Tapi, bagaimana kalo nanti pikiranku dipenuhi dia lagi? Pasti Kau cemburu lagi.”
“Makanya… Itu yang sedang kalian pelajari. Belajar mencintai atas namaKu..”
“Hhaahahha.. Ternyata Kau Maha Narsis. Maafkan aku.. Telah membuatMu kecewa…”
“Selalu, sayang.. MaafKu selalu untukmu..”
“Aku tunggu hadiahNya… Aku cinta Kamu…”
“Pasti kau akan menyukainya… Pasti… Dan saat itulah baru bisa Kubuktikan rasa cintaKu padamu yang begitu besar…”
Entry Filed under: Splash. .
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
tiiikaaa | March 10, 2008 at 3:24 am
I love this words: “Makanya… Itu yang sedang kalian pelajari. Belajar mencintai atas namaKu..”
2.
ndot2an | March 10, 2008 at 3:38 am
hehe.. kayak apa ya rasanya? didukung keluarga aja udah seneng, gimana rasanya didukung Dia ya?
3.
ratna | March 10, 2008 at 4:52 am
smoga hadiah terbaik yg dpersiapkanNya cpt datengnya ya nda..
hihihi
4.
ndot2an | March 10, 2008 at 5:00 am
amin… (menjawab dengan tegas tanpa ragu2 dengan wajah penuh ke’mupeng’an!)
5.
ratna | March 10, 2008 at 8:18 am
ikutan deh amiiiinn..biar tambah cepeet hehehe
6.
Leonardo | March 20, 2008 at 10:07 pm
mba’, ini tulisan sendiri?
edan!.
gw ampe merinding lho. beneran!. kueeeereeen!.
salut. salut.
7.
ndot2an | March 24, 2008 at 8:02 am
hehe.. makasih, Leo.. Jadi malu.. biasalah itu, ubek2 isi perut..
8.
Leonardo | March 24, 2008 at 3:36 pm
Ternyata merinding karena anginnya agak kencang.
*ngeles*