Archive for March 10th, 2008

Aku kecewa

“Aku kecewa. Sangat kecewa. Aku merasa ditinggalkan sendirian.”

“Lalu, kalo sudah begini kau mau apa?”

“Entah! Seolah memoriku berebutan untuk keluar. Saat dia panggil aku sayang. Saat dia dengan mesranya bilang kangen. Saat dia menciumku dari jarak jauh. Semuanya. Dan aku pusing. Bisakah Kau hapus saja semuanya?”

“Termasuk menghapus semua pelajaran yang telah kau dapat? Dan kau akan mulai dari awal lagi?”

“Mmm.. Aku bingung.”

“Pelajaran ini kau dapatkan dengan susah payah. Harus kau lalui dengan luka dan air mata. Kau tidak akan mau melalui itu lagi.”

“Jadi, aku tetap harus hidup dengan kenangan ini?”

“MenurutKu iya. Aku memberimu sakit untuk mensyukuri bagaimana menjadi sehat. Aku memberimu sedih untuk tau betapa berartinya kebahagiaan.”

“Aku rasa semua manusia di dunia ini, tau betapa berartinya kebahagiaan. Jika tidak, buat apa mereka menangis ketika itu diambil?”

“Kamu yakin? Aku tau kau pasti tau jawabanNya kan? Mungkin mereka tau betapa berartinya kebahagiaan. Tapi kadang mereka lupa untuk berhenti menuntut. Atau kadang mereka tau betapa berartinya kebahagiaan tapi berhenti untuk memperjuangkannya karena sudah lelah.”

“Aku tidak mau berhenti, walaupun aku sudah sangat lelah. Dan.. apa Kau lupa, Kau yang menyebabkan kami lelah. Kenapa Kau tidak membiarkan kami bahagia saja. Sudah. Titik. Jangan Kau buat kombinasi lain yang menyakitkan.”

“Jika seorang manusia merasa bahagia dengan kebahagiaannya, itu tidak akan menjadikannya sempurna.”

“MaksudMu?”

“Berbahagialah dengan kesedihanmu…”

“Seperti kata orang, hidup sudah susah, bawa hepi aja?”

“Yah.. Mudaha2an mereka benar2 mengerti arti ‘bawa hepi aja’. Karena kalo tidak, mereka bisa saja hanya bersandiwara tapi jiwa mereka hancur.”

“Lalu yang Kau maksud bahagia itu apa?”

“Saat mereka bilang ‘hidup sudah susah’ itu menunjukkan mereka tidak bahagia. Saat mereka bahagia, tidak akan terucap kalimat ‘hidup sudah susah’. Karena mereka sudah membaur dengan kesedihan dan kesusahan.”

“Banyak manusia yang merasa sudah membaur dengan kesedihan dan kesusahan…”

“Secara fisik iya, tapi belom tentu secara batin.”

“Lalu… Untuk kasusku… Bagaimana?”

“Jika kau tidak sendirian, kadang Aku mereasa sulit untuk berbicara denganmu seperti ini. Kau sibuk dengan pikiranmu sendiri.”

“Mmm… Mungkin. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu.”

“Ya, Aku tau. Itu manusiawi. Makanya Aku senang membuat kombinasi2 yang menyakitkan. Agar kalian sudi singgah sebentar di sini denganKu.”

“Apa tidak ada cara lain yang tidak menyakitkan?”

“Seperti yang Kubilang, jika seorang manusia merasa bahagia dengan kebahagiaannya, itu tidak akan menjadikannya sempurna. Jadi berbahagialah dengan kesedihanmu…”

3 comments March 10, 2008

HadiahNya?

“Ini perbuatanMu?”

“Perbuatan apa?”, Dia menatapku sambil menyembunyikan senyumNya.

“Kau, memisahkan aku dengan dia. Padahal Kau tau, aku sangat mencintainya.”, aku berusaha menahan tangis.

“Apa kau yakin cinta padanya?”

“Yakin! Sangat yakin!”, aku mulai merasakan dadaku naik-turun.

“Jika kau yakin mencintainya, kenapa sekarang kau sedih?”

“Ya, karena Kau memisahkan kami. Mengapa tiba-tiba Kau kembalikan wanita itu kepada dia? Kau cemburu kan? Ngaku!”

“Hehe.. Ya. Aku cemburu. Aku cemburu karena Aku tidak bisa menemuimu lagi seperti dulu. Waktumu habis untuk dia!”

“Tapi aku tetap menemuiMu. Tidak pernah meninggalkanMu…”

“Yap. Tapi kau jarang memikirkan aku. Pikiranmu penuh dengan dia.”

“Itu tidak benar!”

“Jangan sekali-sekali bohong padaKu! Jangan sekali-sekali!!”, aku mulai takut. Dia benar-benar marah.

“Aku.. hanya sedih… Apa Kau mencintaiku?”

“Selalu, sayangKu… Aku selalu mencintaimu..”

“Tapi kenapa Kau tidak suka melihatku bahagia? Aku bahagia bersamanya.”

“Apa Aku tidak cukup bagimu? Apa kau mulai tidak percaya padaKu lagi?”

“Aku percaya padaMu. Dari dulu sampai sekarang. Tapi, aku sering kecewa. Kau ambil semua yang berarti bagiku.”

“Apa kau yakin semua itu berarti bagimu?”

“Mmm… Aku bahagia bersamanya. Itu yang aku tau.”

“Apa kau lupa Aku pernah berjanji akan memberimu hadiah?”

“Aku tidak mau hadiah! Aku mau Kau kembalikan dia padaku! Tolong! Kalau Kau sayang padaku… tolong, kembalikan!”

“… kamu…”, aku kaget melihat Dia mulai menangis. Belum pernah aku melihat mata yang terluka seperti itu.

“Maaf… aku… aku khilaf…”, aku merasa tidak enak.

“… “, Dia terdiam, tapi mencoba tersenyum.

“Benar Kau sedang menyiapkan hadiah untukku?”

“Ya, cintaKu. Tapi belum bisa kau ambil sekarang…”

“Kenapa? Kau tau aku sedang sedih… Kenapa Kau tahan hadiahNya?”

“Aku tahan sampai kau siap menerimanya. Karena ini hadiah yang istimewa.”

“Istimewa?”

“Ya, karena ini untuk menebus semua yang pernah Aku ambil.”

“Mmmm.. Kau tidak perlu melakukan itu. Karena sebenarnya, semua itu milikMu.”

“Ya. Tapi Aku mencintaimu. Dan aku ingin melihat orang yang Kucintai bahagia.”

“Aku bahagia dengannya… Tapi Kau ambil dia…”

“Aku tidak mengambilnya. Aku hanya sedang mempersiapkan semuanya.”

“Persiapan untuk?”

“Agar kalian lebih siap.”

“Lalu, di mana dia sekarang?”

“Sedang belajar. Sama denganmu…”

“Belajar? Tapi Kau kembalikan dia kepada wanita itu? Belajar apaan?!”

“Belajar mencintai…”

“Lalu kenapa tak Kau kirimkan seseorang untukku juga?”

“Karena kau bisa belajar langsung dariKu.”

“Kamu curang!”

“Hehhe… Aku mencintaimu. Sabarlah… HadiahNya sebentar lagi siap. Percaya padaKu. Akan kupersiapkan semuanya. Sampai waktuNya tepat. Tapi kau mau janji?”

“Janji? Apa?”

“Bahwa kau tidak pernah melupakan Aku?”

“Bagaimana bisa aku melupakanMu? Tidak akan bisa… Aku sudah terlalu sering Kau tegur. Hehe… “

“Percayalah.. dan bersabarlah… Pada saat kamu siap, akan segera Kukirimkan hadiahNya…”

“Mmmm.. Terima Kasih.. Ternyata Kau begitu memikirkan aku.”

“Tentu saja, sayang… Setiap hari aku dipenuhi oleh dirimu…”

“Terima kasih, walaupun Kau selalu sibuk, tapi Kau tidak pernah melupakanKu.”

“Hehe.. Makanya.. Jangan marah-marah lagi… Ini semua hanya ditunda, sampai kamu dan dia benar-benar siap.”

“Iya… Aku sekarang tau.. Tapi, bagaimana kalo nanti pikiranku dipenuhi dia lagi? Pasti Kau cemburu lagi.”

“Makanya… Itu yang sedang kalian pelajari. Belajar mencintai atas namaKu..”

“Hhaahahha.. Ternyata Kau Maha Narsis. Maafkan aku.. Telah membuatMu kecewa…”

“Selalu, sayang.. MaafKu selalu untukmu..”

“Aku tunggu hadiahNya… Aku cinta Kamu…”

“Pasti kau akan menyukainya… Pasti… Dan saat itulah baru bisa Kubuktikan rasa cintaKu padamu yang begitu besar…”

8 comments March 10, 2008

27 Dresses

27 DRESSES

  1. Setiap orang berhak bahkan berkewajiban untuk mencari kebahagiaan dan tidak harus selalu memikirkan kebahagiaan orang lain.
  2. Jika kita merasa telah berbuat hal yang benar, pasti kita akan merasa lega setelahnya. Jika tidak, mungkin kita telah keliru dalam menilai kebenaran.
  3. Jika kita mencintai seseorang, kita harus pastikan perasaan itu sebelum berjuang. Karena bisa jadi, ‘rasa’ itu tidak sebesar yang kita pikirkan.
  4. Buka mata dan hati, karena bisa jadi si Mr. Right justru orang yang selalu ada di sekitar kita, tapi tidak terlihat karena kita terlalu fokus kepada orang lain (yang mungkin sebenarnya tidak kita cintai).



1 comment March 10, 2008


 

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Recent Comments

ndot2an on Terakhir Kali…
sepatuhitam on Terakhir Kali…
ndot2an on Tips Mencari Pasangan Jiwa…
little princess on Tips Mencari Pasangan Jiwa…
Rea on Tips Mencari Pasangan Jiwa…

Recent Posts

Blogroll

Blog Stats