Archive for February 16th, 2008
Tangis Terakhir…
Ini tangisan terkahir. Aku berjanji. Tidak hanya pada diriku sendiri, tapi juga kepada orang-orang yang menyayangiku. Malam ini aku mendapat banyak dukungan, sekaligus pembuktian. Bahkan adik kecilku tidak bosen menghiburku dengan menari dan bernyanyi lagu Jepang yang ngaco. Adit pun datang, dan berkali-kali menyeka air mataku. Adikku yang lain bernyanyi lagu ‘Air Mata’ dan ‘Hadapi dengan Senyuman’ sambil menertawakan aku yang menangis sesegukan. Berbeda dengan kemaren saat aku merasa sangat sendirian. Malam ini aku merasakan kehadiran Tuhan. Bahkan beberapa teman menyampaikan dukungannya lewat blogku. Ibuku pun mengirimkan sms, ‘Tuhan Maha Membolak-balikan Hati’.
Bukan karena rasa itu telah hilang. Tapi karena aku sudah sadar. Bukan karena tidak lagi sayang. Tapi justru karena aku semakin mencinta. Cinta ini terlalu suci untuk ditempatkan di posisi yang salah. Sayang ini terlalu murni untuk dijadikan komplementeri. Aku sudah memutuskan untuk membatasi diri. Mungkin aku harus mengubah energi cinta menjadi energi lain. Aku akan selalu ada untuk dia. Tapi dengan cara yang benar. Bukan dengan cara siri seperti ini.
Tuhan, terima kasih Kau telah kembali datang. Kau tidak hanya membelaiku tapi juga menciumku dengan mesra. I Love YOU…
3 comments February 16, 2008
Hadapi Dengan Senyuman – Dewa
Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi
Biar terjadi .
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua… Kan baik baik saja
Bila ketetapan tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah .
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah
Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang
Oh, God!
1 comment February 16, 2008
Tuhan…
Tuhan, di hari (yang kata orang) kasih sayang ini aku belum bisa merasakan hadiah dariMu. Entah mengapa Kau tetap bungkam padaku tentang hal itu. Dulu Kita sering berkomunikasi, bercanda, dan bahkan menangis bersama. Tapi mengapa sekarang aku merasa beda. Saat aku menangis pun, Kau tetap terdiam. Apa belum cukup pelajaran yang telah kuterima? Apakah belum waktuNya aku naik kelas?
Aku ingat aku hanya bisa menangis ketika fitnah terbesar dalam hidupku hadir. Malam itu aku bisa merasakan Kau ada. Bahkan sesekali membelai kepalaku. Walaupun aku sedih, tapi pada akhirnya Kita tertawa bersama. Aku juga ingat ketika cobaan terberat itu datang. Aku kembali menangis dan mengutuk diriku sendiri. Tapi Kau tetap datang, dan mentup mulutku yang penuh sumpah serapah, dan menyuruhku untuk tersenyum.
Tapi kali ini beda. Kau tidak lagi hadir. Saat dia benar-benar pergi. Saat orang yang kurasa kubutuhkan, pelan-pelan pergi dariku. Kau menyuruhku untuk bertahan. Kau juga yang menyuruhku untuk diam. Walaupun aku menangis, tapi sesuai perintahMu, akumengikutiMu. Aku ingat Kau berjanji ada kejutan untukku. Tapi apakah yang terjadi di hari kasih sayang inilah kejutanMu? Saat aku merasa tidak memiliki siapa pun, bahkan untuk sekedar berbagi rasa? Bahkan aku merasa, semakin aku menuruti kata-kataMu, semakin keras pula tekananMu. Aku seperti tidak diinginkan, Tuhan. Hingga dia menyebutku hanya menjadi beban baginya.
Tuhan, tolong cabut rasa ini, jika hanya bisa membebaninya. Tolong ambil cinta ini jika tidak akan membawa kebahagiaan. Tapi jika memang dia adalah kejutan itu, berilah aku kekuatan, Tuhan… Beri aku belaian di kepala lagi seperti dulu. Apa saja, asal aku tidak merasa sendirian. Apa saja… Tolong…
Add comment February 16, 2008