Aku terbangun di tempat tidur dengan selimut yang sangat hangat. Di mana aku? Oh, God! Aku masih di rumah Bima!! Duh! Apa yang udah kami lakuin semalam? Rasa panik muncul dan membuatku secepatnya bangun. Tapi kepalaku sangat pusing. Aggghhhh!!! Sekarang aku mau muntah! AKu langsung lari ke kamar mandi dan muntah di sana. Untung aku masih hapal benar letak bagian rumah Bima ini. Kulihat di samping wastafel ada sikat gigi yang masih baru, kuambil dan menyikat gigiku untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulutku. Setelah selesai membersihkan diri, aku berjalan ke ruang tengah. Bima sedang memasak. Aku berhenti dan menikmati pemandangan ini. Bima mengenakan baju putih dan celana pendek, sedang memasak sesuatu. Kentang goreng? Mmm… Ingatanku kembali ke 2 tahun lalu. Saat itu pasti aku sedang di sampingnya, walaupun hanya melihat-lihat. Aku sama sekali tidak bisa memasak. Dan itu yang sering dikeluhkan Bima. Saat itu aku hanya menjawab, “kalo kamu bisa masak, ya kamu aja yang masakin aku ya?”. Saat itu pasti kamu tertawa dan menepuk kepalaku lembut. AKu rindu. Aku rindu Bima. Ingin rasanya aku berlari dan langsung memeluknya. Tapi kaki seperti tertanam ke tanah. Tak terasa air mataku mulai menetes. AKu mengintip ruang kerja Bima yang terletak persisi di samping aku berdiri. Lukisan itu. Lukisan itu masih terpasang di dinding dengan posisi yang sama. Lukisan yang kami beli di Bali, saat kami liburan di sana.
“Hana?”, Bima memandangiku sambil memegang panci. AKu cepat menghapus air mataku dan berjalan ke arahnya.
“Kamu ngapain?”, aku berdiri di sampingnya, dan melongok isi panci. Sayuran! Cis!!
“Tenang aja… Ini buat aku. Buat kamu ada mashed potatoes ksukaan kamu.”, nah! dia membaca pikiranku lagi. Bima mengambilkan mangkok dan sepiring mashed potatoes ke meja. Aku mengikutinya, dan dia menarik 1 kursi untuk aku duduk. Persis seperti 2 tahun lalu. Bedanya saat itu pasti aku sudah menciuminya berkali-kali sebagai ungkapan terima kasih.
“Terima kasih…”, aku menunduk menyembunyikan senyumku.
“Kamu nyenyak banget tidurnya…”, pernyataannya membuatku terhenyak dan berdiri tiba-tiba.
“Mmm… semalem… kita… mmmm…”, aku bingung bagaimana mempertanyakan apakah semalam kita melakukan hal yang gila.
“Semalem apa?”, pasti Bima sengaja menggodaku. Tidak mungkin dia tidak mengerti maksudku.
“Bima…”, aku menarik ujung bajunya sambil merengek.
“Hehhe… Tenang aja… Aku tidur di sofa, kok…”, oh, syukurlah! Aku kembali duduk dan langsung mengambil makananku dan melahapnya.
“Kamu ga makan?”, aku melihatnya yang masih sibuk membuat sesuatu.
“Iya bentar…”, aku penasaran. Apa sih yang dia buat? Sambil memasukkan satu suapan ke mulutku aku berdiri. Dan membalikkan badan untuk melihat masakan Bima. Ternyata pada saat yang sama Bima juga membalikkan badannya dan sekarang kami berhadapan dengan sangat dekat. Bima meletakkan piring berisi makanannya ke meja di sampingnya, dan makin merapatkan badannya ke arahku. Aku menunduk, berusaha keras menahan air mataku. Tapi Bima mengangkat wajahku. Tangan yang lainnya memelukku sambil sedikit mengangkat tubuhku yang hanya setinggi dadanya. Bima mendekatkan wajahnya. Menciumi air mataku yang menetes. Aku semakin menangis keras. Tidak peduli lagi apa yang Bima pikirkan. Dia tidak mencium bibirku, seperti dulu. Bima tersenyum dan menurunkan tubuhku yang sedikit terangkat. AKu heran kenapa Bima sangat menahan diri saat ini. Tidak seperti Bima yang dulu. Bima kembali mengambil piringnya dan menggandengku untuk kembali ke meja. Aku terdiam. Sebenarnya berharap momen tadi berlanjut. Tapi itu tidak mungkin. AKu duduk dan menyuapkan makananku tanpa suara.
“Kamu suka?”, Bima mencairkan suasana.
“Suka… Sangat suka…”, aku menghapus air mata yang tidak berhenti menetes.
“Kamu tau, aku senang melihatmu ada di dapurku lagi.”, Bima tidak peduli aku memangis.
“Aku juga senang… sangat senang…”, aku masih menunduk. Mashed potatoesku sudah bercampur dengan air mata.
“Kamu tau kepulanganku saat ini untuk apa?”
“Tidak. AKu tidak tau…”, aku sadar bahwa aku tidak pernah tau apapun tentang Bima. Kecuali Bima yang datang dan pergi sesuka hatinya dalam kehidupanku.
“AKu… ingin menikah…”
“Hah? Menikah?”, tak sadar aku berteriak.
“Iya, aku ingin menikah…”
“Sama siapa?”
“Belum tau…”
“Lhoh?”, aku jadi bingung apa maksudnya. Dia ingin menikah tapi tidak tau sama siapa?
“Iya… Aku sudah ingin menikah. Tapi aku tidak tau sama siapa…”
“Mmm… pacarmu? eh, salah satu pacarmu?”, aku sengaja menekankan kata ’salah satu’ untuk menyindirnya.
“Hehe.. Kamu ini bisa aja… Aku belum tau…”
“Mmm…”, aku cm bisa terdiam. Rasa kaget dan sedih bercampur di hatiku. Ada ketakutan bahwa mungkinkah ini saatnya mereka berpisah selamanya? SElama ini dia selalu berharap suatu saat Bima akan kembali padanya. Karena itulah dia selalu menunggu dan tidak menghiraukan siapapun yang mendekatinya.
“Makanya aku pengen ketemu kamu…”
“Untuk apa?”, aku tidak bisa menebak arah pembicaraan Bima.
“Mungkin kamu yang bisa membuatku pulang dan menetap di sini selamanya…”